Jumat, 23 Oktober 2015

BAB V BERBAGAI PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM

BERBAGAI PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM

A. PENDEKATAN SEJARAH

Kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari kata History dalam bahasa  Inggris yang berarti cerita atau kisah. pengertian istilah sejarah itu juga bisa mengacu kepada dua konsep terpisah :
  1. Sejarah yang tersusun dari serangkaian peristiwa masa lampau, kseluruhan pengalaman manusia
  2. Sejarah sebagai suatu cara yang dengan fakta-fakta diseleksi, diubah-ubah, dijabarkan dan dianalisis
Hugiono dan P.K. Poerwantana mendefinisikan sejarah sebagai rekontruksi peristiwa masa lampau yang dialami oleh manusia diberi Tafsiran dan Analisis kritis, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami.

Kata Kuntowijoyo 
"Sejarawan itu ibarat orang naik kereta api dengan melihat ke belakang. ia dapat menoleh ke   kanan dan ke kiri yang tidak bisa dikerjakan ialah melihat kedepan"
Berkaitan Kuntowijoyo penting berkaitan dengan sejarah :
  1. Sejarah itu fakta 
  2. Sejarah itu Diakronis ,Ideografis dan Unik sejrah itu memanjang dalam waktu sedangkan ilmu sosial itu Sinkronis artinya, Sejarah itu memanjang dalam waktu sedangkan ilmu sosial meluas dalam ruangSejarah juga disebut sebagai ilmu yang idiografis (bahasa Yunani Idios artinya pembawaan seseorang kekhasannya)
  3. Sejarah itu empiris, empiris berasal dari kata Yunani Empiria artinya pengalaman 
Meninjau obyek penelitian dengan pendekatan sejarah salah seorang ilmuwan yang melakukannya adalah Ira M. Lapidus menurut :
Pertama, Periode Awal Peradaban Islam di Timur Tengah dalam periode tersebut dapat diperinci menjadi tiga  fase besar :
  1. Fase penciptaan komunitas baru yang bercorak Islam di Arabia
  2. Fase penakhlukan Timur Tengah oleh Masyarakat Arab Muslim
  3. Fase peranan nilai-nilai Islam dan kelompok elit Islam mengubah mayoritas masyarakat Timur Tengah.
Kedua, Periode Penyebaran Global Masyarakat Islam pada abad XII
Ketiga, Perkembangan Modern Umat Islam pada abad XIX hingga abad XX masehi
Adapun prosedur melaksanakan penelitian sejarah agama :
Pertama, persiapan sebelum penelitian judul adalah abstraksi dari topik di dalam sebuah judul mencakup unsur objek, subjek lokasi dan waktu. dalam proposal penelitian sejarah mencakup sub pembahasan :
  1.  Judul Penelitian
  2. Latar Belakang
  3. Permasalahan 
  4. Tujuan Penelitian 
  5. Tinjauan Penelitian
  6. Landasan Teori
  7. Metode yang digunakan 
  8. Sistematika atau alur pembahasan 
Kedua, pengumpulan sumber sejarah (Heuristi) sejarah yang digunakan mempunyai nilai akurat, autentik dan kredibel :
  1. Sumber  tertulis, seperti kitab, majalah, buku, arsip dan sebagainya dikumpulkan berdasarkan fakta melalui telaah teks 
  2. Sumber Visual dan Audio Visual 
  3. Benda-benda sejarah menjadi bukti sejarah 
  4. Sumber lisan, yaitu penuturan Lisan dari pelaku sejarah dan penyaksi adanya peristiwa sejarah
B. PENDEKATAN FENOMENOLOGI 
Dalam catatan Muhadjir, istilah fenomenologi digunakan sejak Lambret yang sejaman dengan Immanuel Kant juga Hegel, sampai Pierce. Kant misalnya membedakan antara phenomenon dan neumenon. Phenomenon adalah obyek yang kita alami dan kejadian yang terjadi. sedangkan Hegel memandang phenomenon sebagai tahapan untuk sampai ke noumenon.
Sejak zaman Edmun Husserl (1859-1938) arti fenomologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir. dalam pandangan Hussel, fenomologi adalah suatu disiplin filsafat yang solid dengan tujuan membatasi dan melengkapi penjelasan psikologis murni tentang proses-proses pikiran. fenomologi Hussel orang harus paham istilah noema. Noema adalah kumpulan semua objek, tidak lain hanyalah sebuah ide tentang makna mengenai segala tindakan jadi membedakan antara sebuah ekspresi makna dengan rujukannya.
Noema ini memiliki dua komponen :
  1. Object Meaning yang menyatukan berbagai komponen dari pengalaman kita 
  2. The Theitic yang membedakan tindakan-tindakan yang berbeda-beda
Fenomologi Husserl dapat dibagi menjadi empat :
  1. Ia berangkat dari matematika, dam ini tersebut periode pra-fenomologi
  2. Awal fenomenologi sebagi korelasi subjektif atas logika murni sebagai tahapan usaha epistomologis yang terbatas
  3. Fenomenologi dianggap sebagai "the first philosophy" 
  4. Fenomenologi sebagai "pengatasan" idealisme
Tokoh lain yang kuat mempengaruhi pendekatan fenomenologi adalah Alfred Schultz. pegaruh lainnya berasal dari Marx Weber yang memberi tekanan pada verstehen yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomenologi  menekankan pada aspek subjektif. artinya mereka berusaha untuk masuk dunia konseptual dari objek yang ditelitinya, sehingga peneliti mengerti tentang apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan di sekitar peristiwa atau objek penelitian dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun fenomenologi agama dikembangkan oleh Max Scheller, Rudolf Otto, Jean Hearing dan Gerardus van der Leeuw. tujuannya untuk memahami pemikiran, tingkah laku,dan lembaga-lembaga keagamaan tanpa mengikuti salah teori filsafat ,teologi, metafisika, ataupun psikologi.
Intensional memiliki dua arti semantik dan ontologik, arti semantik intensional adalah sesuatu bahasa dan juga logikanya adapun arti secara ontologik adalah sesuatu ekstensional bila kesamaan identitas antara dua sesuatu dapat dinyatakan sebagi dua yang equivalen, dua yang identik.

Dalam bukunya Ideen I, Husserl menjadikan intensionalitas sebagai pusat kesadaran manusia. dalam buku lainnya, Logische Untersuchungen , Husserl mengatakan bahwa pengalaman dalam bentuk intuisi orang mungkin menemukan obyek aktual yang berkorespondensi dengan noema, tetapi mungkin juga tidak menemukan.

Pada intinya ada tiga tugas  yang harus dipikul oleh fenomenologi agama yaitu :
  1. Mencari hakikat ketuhanan
  2. Menjelaskan teori wahyu 
  3. Meneliti tingkah laku ke agamaan
Sedangkan bidang garap Fenomenologi adalah Pertama, menerangkan apa yang sudah diketahui yang terdapat dalam sejarah agama. Kedua, fenomenologi berusaha menyusun bagian pokok agama atau sifat alamiah agama. Ketiga, Fenomologi tidak mempersoalkan apakah gejala kegamaan itu benar, apakah bernilai, dan bagaimana dapat menjadi demikian, atau menentukan lebih besar atau kecilnya nilai keagamaan mereka. sekali pun ia berusaha untuk menentukan nilai keagamaannya, ini adalah nilai yang dimiliki oleh pemeluk-pemeluk agama itu sendiri, dan nilai semacam ini tidak pernah bersidat relatif, tetapi selalu absolut. oleh karena itu, titik berat yang dibicarakannya adalah bagaimana kelihatannya, dan dengan cara (bagaimana) ia menampakkan diri kepada kita.

Dengan melihat pada bidang garap sebagaimana diuraikan di atas, maka secara khusus dapat kita cermati bahwasannya yang menjadi obyek fenomenologi adalah :
  1. Menemukan Intisari 
  2. Menemukan struktur
  3. Mencari inner meaning
  4. Membuat klasifikasi, tipologi dan penyisteman fenomena
  5. Mencari motif dasar
  6. Mencari alur perkembangan gejala dari waktu ke waktu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar