Rabu, 06 April 2016

CERPEN

“RIPPED JEANS”

Pagi hari yang penuh dengan embun terdengar suara-suara berisik di sebuah kamar mencari celana kesayangannya yang tak terpakai dan teringat untuk memakainya kembali. tergelantung diantara pakaian kotor diantara barisan lemari terdapat satu celana jeans yang  sobek-sobek selalu dipakai kemana-mana, anak muda itu pemberani,  nakal, dekil, aneh, humoris dengan moto hidupnya “jangan lupa bernafas”. Hidup di tengah kota penuh dengan gedung-gedung bertingkat  bernama “ausli”. Setiap kemanapun pergi selalu memakai celana jeans yang sobek-sobek itu dengan terkadang memakai headset untuk mendengarkan musik. Dia pun mahasiswa baru disaat  pertama setiap berangkat kuliah selalu memakai headset dan celana jeans di perjalanan ada sebuah perempatan disitu tidak ada pos polisi dikiranya. Di dalam hatinya “ hahahaha tak ada polisi nih, pagi-pagi ini si polisi pasti tidur “. Tak berapa kemudian dibalik kaca spion motornya ada polisi yang mulai menghampiri. “hei berhenti.” kata polisi dengan marah. Dan ausli tidak dengar tapi  tahu ada polisi dibelakang dia tetap melaju dengan santainya mendengarkan musik rock n roll dengan keras, volume musiknya pun ditambah tak menghiraukan polisi dibelakang. Didalam lagu tersebut ada lirik yang berbunyi  “hidupku dijalanan aku merasa senang lalalala.”  Tanpa sadar  menyanyikan dengan suara keras dijalan tak sadar juga hampir sampai dikampus. Lalu polisi itu pun memberhentikannya  secara tiba-tiba pas di depan gerbang. “hei copot headset itu dan matikan musikmu itu sekarang.” Dengan nada bentak pak polisi. Ausli pun tersadar bahwa polisi itu memang menghampirinya. “pak salah saya apa? Saya pakai helm, saya juga punya spion dua dan lampu menyala.”dengan santainya ausli menjawab. Pak polisi pun langsung menjelaskan. “kamu itu salahnya memakai headset dan nyanyi-nyanyi dijalanan dengan keras suaramu itu tapi bagus juga ya hahahaha.” Polisi itu malah memuji suaranya  si ausli dan bertanya. “lagu itu lagu siapa.” Ausli pun  dengan polosnya menjawab dengan. “ itu lagu band baruku pak yang kemarin lalu baru saja rekaman.” Pak polisi pun sepertinya memarahi dan memuji ausli karena suaranya tak disangka juga celana jeans dipakai ausli,  membuat nostalgia pak polisi waktu masih muda dulu lalu  di gerbang kampus  bilang sama ausli. “lain kali kalau di jalanan jangan memakai headset dan bernyanyi dikurangi volume suaramu nak dan juga jeansmu yang sobek-sobek itu membuatku nostalgia pada masa remaja waktu dulu ya pernah ngerock gitu tapi aku dulu mendengarkan lagu dangdut.” Kata si pak polisi dengan cengegesan.  Ausli pun merasa senang dan ketawa dengan terbahak-bahak mendengarkan kata pak polisi itu. “iya pak kita jadi seumuran lagi gara-gara ripped jeans ini sobek-sobek tapi berarti bagi bapak.” Pak polisi itu pun bergegas kembali ke pos untuk berkerja dan member pesan. “kamu tidak ditilang tapi teruskan suara nyanyimu dan celana sobek itu seperti rock n roll yeahhh….’’ Polisi itu berteriak keras Dan tak menghiraukan karena disekitar itu masih ada anak mahasiswa yang masuk ke gerbang kampus  dan ada sebagian anak mahasiswa laki-laki  dengan tak memakai helm  berkata.’’ Ya ampun nih polisi suaranya kayak kejepit tikus got nggak pantes ngerock dah”. Pak polisi pun dengar  langsung dan menilang anak mahasiswa itu karena tak memakai helm. “hayo berbicara apa tadi.” Mahasiswa itu dengan bicara gagap. “ anu pak anu bapak suaranya bagus”. Dengan polosnya mahasiswa mengatakan seperti itu dan ausli pun ketawa terbahak-bahak  lalu pergi meninggalkan .
Setelah kejadian tadi pagi ausli pun langsung menuju kelas dengan percaya dirinya sampai dikelasnya dengan duduk rapi tas terbuka dengan bawaan headset yang lalu lalai dan ada mahasisiwi yang bernama dita menyapa dengan mengejek ausli. “eh kamu kenapa tuh tas berantakan celana jebol jebol nggak karuan, terus aku tadi liat di gerbang sana kayak sama bapakmu tuh polisi dasar anak bapak.” Ausli terdiam dan mengangguk. “Memang iya itu bapaknya orang ta.” Dita seperti kurang puas dan menanyakan lagi. “heh  kok pak polisi teriak-teriak nggak jelas dan cengengesan”. Ausli pun menjelaskan bahwa polisi itu tadi bapaknya orang dengan bercandaanya. “itu tu bapaknya orang ta yang lagi nostalgia sama celana jeansku dan suaraku tentunya hahahaha, bapaknya orang kenapa sih ngurusin begituan mending aku nyanyiin kamu.” Dengan percaya dirinya Austin merayu dita, ditapun merasa cuek dan kesal. Tak lama kemudian pak dosen pun datang dengan mata kuliah seni rupa. “ hemm hemm sudahkah siap untuk perkenalan hari ini anak-anak kalau sudah  saya absen satu persatu ya .” Dengan suara tegas dari pak adi guru seni rupa. Di tengah memulai pekenalan satu persatu ausli pun mendengarkan headset lagi yang di dengarkan kali ini lagunya ipank yang berjudul “nggak ada takutnya” dan tanpa disadar ausli menyanyikan lagu tersebut dengan sepenggal liriknya “aku nggak mau peduli lagi sama semuanya”. Dengan teriak keras ausli. Beberapa kemudian pak dosen pun memanggil ausli. “ ausli ausli ausli ausli haus aku li minum apa???“ semua di kelas pun tertawa terbahak-bahak dan menjawab. “haus pak minum baygon hahahahha”. Ausli pun tersadar dan mencopot headsetnya dan berusaha meminta maaf. “maaf pak saya sudah sadar kalau saya nggak peduli lagi sama semuanya.” Ausli  berkata dengan polos dan santainya, pak adi pun langsung menyuruh ausli kedepan kelas. “sini kamu kedepan li.” Ausli pun maju dengan percaya diri  menuju depan kelas dan pak adi melihat celana ausli sobek-sobek tidak beratur nampaknya pak adi senang melihat seni di celana jeans ausli  dan langsung mengatakan kepada anak-anak. “kenapa saya pilih ausli maju kedepan lihat celananya, yang sobek-sobek lihat titik dan garis yang tak beratur tapi saling keterkaitan bentuk juga yang tak sama dari warna juga yang kusam inilah bahan diskusi kita hari ini”.pak adipun sudah menjelaskan ausli pun kaget dikira akan dimarahi. “Terimakasih pak adi sudah bisa membuat bahan diskusi tentang celana jeans saya hehehe.” Dengan bercandaan ausli, dita pun memuji ausli dan mengajak ausli untuk menjadi kelompoknya.” Li ayo jadi kelompokku aja karena aku ingin dinyanyiin sama kamu hehehehe.” Ausli pun mau dengan permintaan dita dan pak adi memberi kesimpulan “dimana kita berada  tuangkan  seni itu dalam bentuk kreasi gerak, rupa, nada, syair ubahlah menjadi warna yang berbeda ajak disekitarmu tanpa sadar bahwa seni itu dapat membawa keindahan yang dinikmati walaupun wadah yang kotor sekalipun tetapi didalam penuh warna, warna menjadikan sesuatu yang tak disangka dan indah kita rasakan.” Lalu para mahasiswa dan mahasiswi pun mengikuti pembelajaran dengan kondusif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar