“RIPPED JEANS”
Pagi hari yang penuh dengan
embun terdengar suara-suara berisik di sebuah kamar mencari celana
kesayangannya yang tak terpakai dan teringat untuk memakainya kembali.
tergelantung diantara pakaian kotor diantara barisan lemari terdapat satu
celana jeans yang sobek-sobek selalu
dipakai kemana-mana, anak muda itu pemberani, nakal, dekil, aneh, humoris dengan moto
hidupnya “jangan lupa bernafas”. Hidup di tengah kota penuh dengan
gedung-gedung bertingkat bernama
“ausli”. Setiap kemanapun pergi selalu memakai celana jeans yang sobek-sobek
itu dengan terkadang memakai headset untuk mendengarkan musik. Dia pun
mahasiswa baru disaat pertama setiap
berangkat kuliah selalu memakai headset dan celana jeans di perjalanan ada
sebuah perempatan disitu tidak ada pos polisi dikiranya. Di dalam hatinya “
hahahaha tak ada polisi nih, pagi-pagi ini si polisi pasti tidur “. Tak berapa
kemudian dibalik kaca spion motornya ada polisi yang mulai menghampiri. “hei
berhenti.” kata polisi dengan marah. Dan ausli tidak dengar tapi tahu ada polisi dibelakang dia tetap melaju
dengan santainya mendengarkan musik rock n roll dengan keras, volume musiknya
pun ditambah tak menghiraukan polisi dibelakang. Didalam lagu tersebut ada
lirik yang berbunyi “hidupku dijalanan
aku merasa senang lalalala.” Tanpa
sadar menyanyikan dengan suara keras
dijalan tak sadar juga hampir sampai dikampus. Lalu polisi itu pun
memberhentikannya secara tiba-tiba pas
di depan gerbang. “hei copot headset itu dan matikan musikmu itu sekarang.”
Dengan nada bentak pak polisi. Ausli pun tersadar bahwa polisi itu memang
menghampirinya. “pak salah saya apa? Saya pakai helm, saya juga punya spion dua
dan lampu menyala.”dengan santainya ausli menjawab. Pak polisi pun langsung
menjelaskan. “kamu itu salahnya memakai headset dan nyanyi-nyanyi dijalanan dengan
keras suaramu itu tapi bagus juga ya hahahaha.” Polisi itu malah memuji
suaranya si ausli dan bertanya. “lagu
itu lagu siapa.” Ausli pun dengan
polosnya menjawab dengan. “ itu lagu band baruku pak yang kemarin lalu baru
saja rekaman.” Pak polisi pun sepertinya memarahi dan memuji ausli karena
suaranya tak disangka juga celana jeans dipakai ausli, membuat nostalgia pak polisi waktu masih muda
dulu lalu di gerbang kampus bilang sama ausli. “lain kali kalau di
jalanan jangan memakai headset dan bernyanyi dikurangi volume suaramu nak dan
juga jeansmu yang sobek-sobek itu membuatku nostalgia pada masa remaja waktu
dulu ya pernah ngerock gitu tapi aku dulu mendengarkan lagu dangdut.” Kata si
pak polisi dengan cengegesan. Ausli pun
merasa senang dan ketawa dengan terbahak-bahak mendengarkan kata pak polisi
itu. “iya pak kita jadi seumuran lagi gara-gara ripped jeans ini sobek-sobek
tapi berarti bagi bapak.” Pak polisi itu pun bergegas kembali ke pos untuk
berkerja dan member pesan. “kamu tidak ditilang tapi teruskan suara nyanyimu
dan celana sobek itu seperti rock n roll yeahhh….’’ Polisi itu berteriak keras
Dan tak menghiraukan karena disekitar itu masih ada anak mahasiswa yang masuk
ke gerbang kampus dan ada sebagian anak
mahasiswa laki-laki dengan tak memakai
helm berkata.’’ Ya ampun nih polisi
suaranya kayak kejepit tikus got nggak pantes ngerock dah”. Pak polisi pun
dengar langsung dan menilang anak
mahasiswa itu karena tak memakai helm. “hayo berbicara apa tadi.” Mahasiswa itu
dengan bicara gagap. “ anu pak anu bapak suaranya bagus”. Dengan polosnya
mahasiswa mengatakan seperti itu dan ausli pun ketawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan .
Setelah kejadian tadi pagi
ausli pun langsung menuju kelas dengan percaya dirinya sampai dikelasnya dengan
duduk rapi tas terbuka dengan bawaan headset yang lalu lalai dan ada mahasisiwi
yang bernama dita menyapa dengan mengejek ausli. “eh kamu kenapa tuh tas
berantakan celana jebol jebol nggak karuan, terus aku tadi liat di gerbang sana
kayak sama bapakmu tuh polisi dasar anak bapak.” Ausli terdiam dan mengangguk.
“Memang iya itu bapaknya orang ta.” Dita seperti kurang puas dan menanyakan
lagi. “heh kok pak polisi teriak-teriak
nggak jelas dan cengengesan”. Ausli pun menjelaskan bahwa polisi itu tadi
bapaknya orang dengan bercandaanya. “itu tu bapaknya orang ta yang lagi
nostalgia sama celana jeansku dan suaraku tentunya hahahaha, bapaknya orang
kenapa sih ngurusin begituan mending aku nyanyiin kamu.” Dengan percaya dirinya
Austin merayu dita, ditapun merasa cuek dan kesal. Tak lama kemudian pak dosen
pun datang dengan mata kuliah seni rupa. “ hemm hemm sudahkah siap untuk
perkenalan hari ini anak-anak kalau sudah
saya absen satu persatu ya .” Dengan suara tegas dari pak adi guru seni
rupa. Di tengah memulai pekenalan satu persatu ausli pun mendengarkan headset
lagi yang di dengarkan kali ini lagunya ipank yang berjudul “nggak ada
takutnya” dan tanpa disadar ausli menyanyikan lagu tersebut dengan sepenggal
liriknya “aku nggak mau peduli lagi sama semuanya”. Dengan teriak keras ausli.
Beberapa kemudian pak dosen pun memanggil ausli. “ ausli ausli ausli ausli haus
aku li minum apa???“ semua di kelas pun tertawa terbahak-bahak dan menjawab.
“haus pak minum baygon hahahahha”. Ausli pun tersadar dan mencopot headsetnya
dan berusaha meminta maaf. “maaf pak saya sudah sadar kalau saya nggak peduli
lagi sama semuanya.” Ausli berkata
dengan polos dan santainya, pak adi pun langsung menyuruh ausli kedepan kelas.
“sini kamu kedepan li.” Ausli pun maju dengan percaya diri menuju depan kelas dan pak adi melihat celana
ausli sobek-sobek tidak beratur nampaknya pak adi senang melihat seni di celana
jeans ausli dan langsung mengatakan
kepada anak-anak. “kenapa saya pilih ausli maju kedepan lihat celananya, yang
sobek-sobek lihat titik dan garis yang tak beratur tapi saling keterkaitan
bentuk juga yang tak sama dari warna juga yang kusam inilah bahan diskusi kita
hari ini”.pak adipun sudah menjelaskan ausli pun kaget dikira akan dimarahi.
“Terimakasih pak adi sudah bisa membuat bahan diskusi tentang celana jeans saya
hehehe.” Dengan bercandaan ausli, dita pun memuji ausli dan mengajak ausli
untuk menjadi kelompoknya.” Li ayo jadi kelompokku aja karena aku ingin
dinyanyiin sama kamu hehehehe.” Ausli pun mau dengan permintaan dita dan pak
adi memberi kesimpulan “dimana kita berada
tuangkan seni itu dalam bentuk
kreasi gerak, rupa, nada, syair ubahlah menjadi warna yang berbeda ajak
disekitarmu tanpa sadar bahwa seni itu dapat membawa keindahan yang dinikmati
walaupun wadah yang kotor sekalipun tetapi didalam penuh warna, warna
menjadikan sesuatu yang tak disangka dan indah kita rasakan.” Lalu para
mahasiswa dan mahasiswi pun mengikuti pembelajaran dengan kondusif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar